

KABUPATEN BEKASI, idetik.id – Pondok Pesantren Al-Jailani Firdaus kembali menggelar pengajian rutin Majelis Allah pada Kamis malam, 15 Oktober 2026, yang berlangsung hingga Jumat dini hari, 16 Oktober 2026. Kegiatan keagamaan yang terbuka untuk umum tersebut dipadati jamaah dari berbagai daerah yang antusias mengikuti rangkaian kajian keislaman.
Dalam kesempatan tersebut, pimpinan Majelis Allah sekaligus pendiri Pondok Pesantren Al-Jailani Firdaus, Aang Oki Firdaus, menyampaikan tausyiah dengan mengupas makna salah satu tulisan yang telah dibukukan dalam karya berjudul 101 Kalam Cinta Aang Oki Firdaus
Aang Oki Firdaus, yang akrab disapa Aang oleh para jamaah dan murid-muridnya, mengangkat tema Kalam Cinta ke-3, yakni “Kesuksesan Hakiki Adalah Taat.” Kajian ini menjadi bagian dari agenda rutin untuk mengulas kembali kalam-kalam yang sebelumnya pernah ia tulis dan bagikan melalui media sosial maupun status WhatsApp.
Dalam penyampaiannya, Aang mengajak jamaah untuk memahami bahwa ukuran kesuksesan seorang hamba tidak semata-mata ditentukan oleh tercapainya keinginan pribadi, kedudukan, maupun pencapaian duniawi. Lebih dari itu, kesuksesan hakiki terletak pada kemampuan seseorang untuk menjalankan perintah Allah SWT dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.
“Teruslah belajar melakukan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena hakikat dari kesuksesan seorang hamba adalah ketika ia mampu merealisasikan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, bukan ketika ia mampu merealisasikan apa yang ia inginkan,” demikian inti pesan dalam Kalam Cinta ke-3 yang dikaji pada malam tersebut.
Menempatkan Ketaatan sebagai Ukuran Kesuksesan
Dalam kajian tersebut, makna ketaatan menjadi pokok pembahasan yang ditekankan kepada seluruh jamaah. Pesan itu mengingatkan bahwa setiap Muslim perlu terus belajar memperbaiki diri, memahami ajaran agama, serta berusaha menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.
Menurut pesan yang terkandung dalam kalam tersebut, keinginan pribadi tidak seharusnya menjadi satu-satunya pedoman dalam menjalani kehidupan. Seorang hamba perlu menempatkan tuntunan agama sebagai landasan dalam menentukan sikap, mengambil keputusan, dan menjalani berbagai ujian kehidupan.
Kesuksesan duniawi, seperti keberhasilan dalam pekerjaan, usaha, pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat, tetap dapat diupayakan. Namun, pencapaian tersebut perlu berjalan seiring dengan ketaatan kepada Allah SWT dan tidak membuat seseorang melupakan kewajiban agamanya.
Pesan ini juga mengajak jamaah untuk senantiasa melakukan introspeksi diri. Setiap orang perlu mengevaluasi apakah langkah yang ditempuh dalam kehidupan telah sesuai dengan tuntunan agama atau justru lebih banyak mengikuti keinginan pribadi.
Melalui pembahasan Kalam Cinta tersebut, Aang Oki Firdaus mengajak jamaah untuk terus memperdalam pemahaman keislaman dan menjadikan ketaatan sebagai prinsip utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Rangkaian Kajian Diisi Tawasulan, Mahalul Qiyam, Tauhid, dan Fikih
Sebelum memasuki sesi pengupasan Kalam Cinta, pengajian rutin Majelis Allah terlebih dahulu diisi dengan sejumlah rangkaian kegiatan keagamaan.
Agenda diawali dengan tawasulan yang dipimpin oleh Buya Ahmad. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan Mahalul Qiyam yang sebelumnya dibawakan oleh Ustaz Atep Mubarok.
Namun, untuk sementara waktu, posisi tersebut digantikan oleh Gus Ahmad karena Ustaz Atep Mubarok sedang menjalankan tugas dari gurunya, yakni Aang Oki Firdaus.
Setelah rangkaian Mahalul Qiyam, pengajian dilanjutkan dengan kajian tauhid yang disampaikan oleh KH Nur Ali. Materi berikutnya adalah kajian fikih yang dibawakan oleh Gus Ahmad.
Pada sesi terakhir, Aang Oki Firdaus menyampaikan kajian khusus dengan mengupas makna Kalam Cinta yang menjadi agenda berkelanjutan dalam pengajian rutin Majelis Allah.
Susunan kajian tersebut menghadirkan materi keagamaan yang beragam, mulai dari tawasulan, Mahalul Qiyam, tauhid, fikih, hingga pendalaman pesan-pesan keislaman melalui kalam yang ditulis oleh pendiri pondok pesantren.
Jamaah Datang dari Berbagai Daerah
Pengajian rutin yang berlangsung di Pondok Pesantren Al-Jailani Firdaus, Kampung Bojong Santri, Desa Bojongsari, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, itu diikuti jamaah dari berbagai kalangan.
Jamaah tidak hanya berasal dari warga sekitar Desa Bojongsari dan Desa Labansari, tetapi juga dari sejumlah daerah lainnya, di antaranya Karawang, Subang, Cianjur, Bogor, dan Tangerang, serta beberapa wilayah lain.
Antusiasme jamaah terlihat dari banyaknya peserta yang hadir untuk mengikuti rangkaian pengajian. Bahkan, halaman gedung santri putri Pondok Pesantren Al-Jailani Firdaus dipenuhi jamaah yang mengikuti kegiatan hingga selesai.
Pengajian dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 00.00 WIB. Para jamaah mengikuti rangkaian acara dari awal sampai akhir sebagai bagian dari ikhtiar memperdalam ilmu agama dan memperkuat hubungan spiritual kepada Allah SWT.
Kehadiran jamaah dari berbagai daerah tersebut menunjukkan besarnya minat masyarakat untuk mengikuti kegiatan keagamaan yang diselenggarakan secara rutin oleh Majelis Allah.
Istiqamah, Bersandar, dan Berserah Diri kepada Allah
Dalam pesan penutupnya, pimpinan Majelis Allah, Aang Oki Firdaus, menekankan pentingnya menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tempat bersandar dan menyerahkan segala urusan kehidupan.
Sikap berserah diri kepada Allah perlu disertai ikhtiar, kesungguhan dalam menjalankan kewajiban, serta keteguhan untuk tetap istiqamah di jalan yang diridai-Nya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jamaah bahwa perjalanan memperbaiki diri merupakan proses yang harus terus dilakukan. Ketaatan tidak cukup hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan melalui perilaku, ibadah, dan sikap dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kajian Kalam Cinta ke-3 bertajuk “Kesuksesan Hakiki Adalah Taat”, Aang Oki Firdaus mengajak jamaah untuk tidak menjadikan keinginan pribadi sebagai tujuan tertinggi, melainkan terus belajar menyesuaikan langkah kehidupan dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Pengajian rutin Majelis Allah di Pondok Pesantren Al-Jailani Firdaus pun menjadi ruang bagi masyarakat untuk menimba ilmu, memperkuat keimanan, serta membangun semangat kebersamaan dalam menapaki kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
(Abie FU)




