Scroll Untuk Baca Artikel
NewsProvinsi BantenRangkas Bitung

Keluarga King Naga Kecewa dengan Pelayanan RS Misi Rangkasbitung, Minta Evaluasi Penanganan Pasien dan Jadwal Operasi

×

Keluarga King Naga Kecewa dengan Pelayanan RS Misi Rangkasbitung, Minta Evaluasi Penanganan Pasien dan Jadwal Operasi

Sebarkan artikel ini


BANTEN, idetik.id – Keluarga King Naga mengungkapkan kekecewaan terhadap pelayanan Rumah Sakit Misi Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Kekecewaan tersebut muncul setelah ibu King Naga, yang menurut keterangan keluarga tengah mengalami penurunan kondisi kesehatan dan membutuhkan penanganan medis, disebut diminta pulang serta menunggu jadwal operasi hingga 17 Oktober 2026.

Peristiwa ini menjadi perhatian keluarga karena mereka berharap sang ibu mendapatkan penanganan lanjutan sesuai kondisi kesehatannya, termasuk pertimbangan rawat inap apabila secara medis diperlukan untuk memantau perkembangan kondisi pasien selama menunggu tindakan operasi.

Scroll Untuk Baca Artikel
Scroll Untuk Baca Artikel

Berdasarkan informasi yang disampaikan King Naga kepada Humas LSM LASKAR NKRI DPW Provinsi Banten, pihak keluarga membawa ibunya ke Rumah Sakit Misi untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis. Namun, keluarga mengaku memperoleh informasi bahwa jadwal operasi baru tersedia pada 17 Oktober 2026 karena jadwal tindakan disebut telah penuh.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran keluarga, terutama mengenai keamanan dan perkembangan kesehatan pasien apabila harus menunggu di rumah tanpa pemantauan medis yang dinilai memadai.

LSM LASKAR NKRI DPW Banten Soroti Pelayanan Rumah Sakit

Kekecewaan keluarga turut mendapat perhatian LSM LASKAR NKRI DPW Provinsi Banten. Melalui keterangan yang disampaikan kepada humas organisasi tersebut, keluarga mempertanyakan pertimbangan medis yang mendasari keputusan pasien diminta pulang dan menunggu jadwal operasi.

“Kami dari LSM LASKAR NKRI DPW Banten sangat kecewa dan terpukul dengan pelayanan Rumah Sakit Misi. Orang tua King Naga sedang mengalami kesakitan dan membutuhkan penanganan medis. Namun, berdasarkan informasi yang kami terima dari keluarga, pasien diminta pulang dan menunggu sampai tanggal 17 Oktober dengan alasan jadwal operasi penuh,” demikian pernyataan yang disampaikan pihak keluarga melalui Humas LSM LASKAR NKRI DPW Banten.

Pihak keluarga menilai persoalan tersebut perlu mendapatkan penjelasan yang terang dari pihak rumah sakit. Menurut mereka, penentuan jadwal operasi semestinya disertai penjelasan mengenai kondisi pasien, tingkat urgensi tindakan, serta langkah medis yang perlu dilakukan selama masa tunggu.

Keluarga juga berharap kondisi pasien dinilai secara menyeluruh oleh tenaga medis agar keputusan mengenai rawat inap, rawat jalan, maupun tindakan lanjutan benar-benar didasarkan pada hasil pemeriksaan dan tingkat kegawatan pasien.

Ricky Minta Penjelasan dan Evaluasi Menyeluruh

Ricky, selaku Humas LSM LASKAR NKRI DPW Provinsi Banten, menyampaikan bahwa keluarga merasa khawatir terhadap kondisi ibu King Naga apabila harus menunggu jadwal operasi di rumah.

Menurut Ricky, persoalan yang menjadi perhatian bukan semata-mata mengenai ketersediaan jadwal operasi, melainkan juga kepastian bahwa pasien memperoleh pemeriksaan, penilaian medis, dan arahan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatannya.

Ia berharap pihak rumah sakit dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai hasil pemeriksaan pasien, alasan pasien diperbolehkan atau diminta pulang, serta pertimbangan medis terkait jadwal operasi yang diberikan.

Keluarga juga berharap adanya komunikasi yang jelas antara tenaga medis dan pihak keluarga agar mereka memahami kondisi pasien, risiko yang perlu diwaspadai, serta langkah yang harus ditempuh apabila kondisi kesehatan pasien mengalami perubahan sebelum jadwal operasi.

Minta Keuskupan Bogor dan Yayasan Lakukan Evaluasi

Selain meminta penjelasan dari manajemen rumah sakit, keluarga melalui LSM LASKAR NKRI DPW Banten berharap Keuskupan Bogor dan Yayasan Yatna Yuana Kasih memberikan perhatian serta melakukan evaluasi terhadap pelayanan Rumah Sakit Misi Rangkasbitung.

Evaluasi yang diharapkan mencakup mekanisme penilaian kegawatdaruratan, komunikasi antara tenaga medis dan keluarga pasien, pertimbangan rawat inap, serta penentuan prioritas tindakan medis berdasarkan kondisi klinis masing-masing pasien.

Menurut pihak keluarga, pelayanan kesehatan harus memberikan kepastian informasi kepada pasien dan keluarga, khususnya ketika tindakan medis belum dapat dilakukan dalam waktu dekat.

Mereka berharap setiap pasien mendapatkan pemeriksaan dan keputusan medis sesuai tingkat urgensi kondisinya, tanpa mengabaikan keselamatan pasien selama menunggu tindakan lanjutan.

Meski demikian, penentuan prioritas operasi tidak hanya didasarkan pada permintaan keluarga, tetapi harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan, tingkat kegawatan, serta penilaian dokter yang bertanggung jawab terhadap pasien.

Karena itu, penjelasan dari pihak rumah sakit diperlukan untuk memastikan apakah keputusan yang diambil telah sesuai dengan kondisi medis pasien dan prosedur pelayanan yang berlaku.

Redaksi Membuka Ruang Hak Jawab Rumah Sakit

Hingga berita ini disusun, redaksi belum memperoleh keterangan resmi dari manajemen Rumah Sakit Misi Rangkasbitung mengenai peristiwa tersebut. Informasi mengenai hasil pemeriksaan pasien, kondisi medis terkini, alasan pasien diminta pulang, serta pertimbangan penetapan jadwal operasi masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.

Redaksi juga belum menerima dokumen medis maupun keterangan independen yang dapat memastikan tingkat kegawatan pasien saat menjalani pemeriksaan di rumah sakit.

Oleh sebab itu, informasi mengenai dugaan kekurangan pelayanan ini masih didasarkan pada keterangan keluarga yang disampaikan melalui Humas LSM LASKAR NKRI DPW Banten. Konfirmasi dari pihak rumah sakit diperlukan agar pemberitaan dapat menyajikan persoalan secara berimbang dan utuh.

Redaksi idetik.id membuka ruang bagi manajemen Rumah Sakit Misi Rangkasbitung, Keuskupan Bogor, dan Yayasan Yatna Yuana Kasih untuk memberikan klarifikasi, tanggapan, serta penjelasan mengenai prosedur pelayanan yang telah dilakukan terhadap pasien.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan pasien, komunikasi yang transparan, dan keputusan medis berdasarkan hasil pemeriksaan merupakan aspek penting dalam pelayanan kesehatan. Evaluasi yang objektif diharapkan dapat memberikan kejelasan bagi keluarga sekaligus menjadi bahan perbaikan pelayanan apabila ditemukan kekurangan dalam pelaksanaannya.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: EITS......MAU COPAS YA? NULIS SENDIRI DONK !!