idetik.id | Jakarta – Pak, padahal kamu bisa berhenti, tapi kenapa kamu memilih menggilasnya sampai mati?
Kamu dan orang yang kamu injak itu, bukankah kalian sama-sama punya orang tua yang menanti agar kalian pulang?
Pak, kamu bisa berhenti. Bisa turun. Minta maaf. Jelaskan bahwa kamu juga dilema saat harus bertugas dalam situasi semacam ini. Dan aku yakin, orang-orang itu akan membukakan jalan karena bersimpati.
Tapi … kenapa kamu malah menaikkan gas tinggi-tinggi?
Pak, siapa pun kamu … masihkah hati nuranimu berfungsi?
Sebab tanpa diminta berhenti pun, kamu harusnya tahu bahwa apa saja yang mengganjal itu, pasti mati.
Pak, siapa pun kamu … tahukah bahwa keangkuhanmu sudah merenggut nyawa orang lain?
Dibandingkan pekerjaanmu, memang driver ojek tidak berarti. Tapi, itu bukan alasan kamu menggilasnya sampai mati.
Pak, siapa pun kamu … ingatkah bahwa pekerjaanmu bertujuan membela yang lemah? Lantas, mengapa kamu malah berubah pongah?
Bagaimana bila yang mengganjal banmu adalah adikmu? Apakah kamu akan terus melaju?
Pak, siapa pun kamu … ingatlah bahwa kamu digaji dari pajak rakyat yang suara dan raganya kamu injak.
Kamu … pernah didoakan orang tuamu agar bisa mendapatkan pekerjaanmu. Tapi, kenapa kamu malah merenggut doa orang tua lain untuk anaknya?
Pak, siapa pun kamu, ingatlah bahwa seragam yang kamu banggakan itu adalah amanah agar kamu membela orang lemah.
Ingatkah kamu betapa bangganya saat pertama kali mengenakan seragam itu? Bukankah saat itu kamu diminta berjanji, bahwa kamu akan menjadi sosok yang mengayomi dan melindungi?
Pak, siapa pun kamu … aku tidak meminta agar Allah membalas perbuatanmu. Tapi, aku berdoa semoga rasa bersalah terus menghantui sepanjang sisa hidupmu.
Sebab ada seorang ibu yang saat ini menangis pilu karena ulahmu …
Sebab saat ini, ada seorang ibu yang kehilangan sebagian dunianya karena keangkuhanmu ….🥀
Red”Redho












