

CIKARANG TIMUR, idetik.id — Lantunan shalawat dan zikir menggema di Kampung Rawagebang, Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Sabtu (5/9/2026). Ratusan jemaah, yang didominasi oleh ibu-ibu majelis taklim se-Kecamatan Cikarang Timur, tumpah ruah memadati area Tabligh Akbar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Nurul Iman.
Kemeriahan dan kekhidmatan acara ini turut dihadiri oleh Kepala Desa Tanjungbaru, H. Dudu Sumbali, SH, jajaran aparatur desa, para tokoh masyarakat, serta tokoh pemuda setempat. Rangkaian acara diisi dengan sambutan-sambutan hangat dari pihak panitia, Kepala Desa Tanjungbaru, dan pengasuh Majelis Taklim Nurul Iman, KH. Drs. Burhanudin, yang mengimbau pentingnya meneladani perjuangan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.


Acara maulid nabi tahun ini panitia menampilkan penceramah yang sedang viral yaitu KH. Ahmad Royani Al-Bantani biasa di sebut Ustadz Ruhay dari Ciamis.
Makna dan Landasan Peringatan Maulid Nabi dalam Al-Qur’an
Peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW merupakan momentum spiritual yang sarat akan nilai syukur atas diutusnya suri teladan bagi seluruh alam. Meskipun praktik perayaan secara spesifik tidak disebutkan secara tekstual dalam bentuk ritual tahunan di masa Nabi, para ulama menegaskan bahwa esensi dari peringatan Maulid adalah wujud kecintaan, mengenang sejarah, serta mengambil pelajaran dari akhlak mulia beliau, yang sejalan dengan anjuran Al-Qur’an.


Salah satu dalil pokok yang sering dijadikan landasan teologis dalam mengekspresikan kegembiraan atas nikmat Allah di mana nikmat terbesar bagi umat Islam adalah kelahiran dan diutusnya Nabi Muhammad SAW tercantum dalam Surah Yunus ayat 58:
Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58).
Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya Husnun Maqshid fi Amal al-Maulid menjelaskan bahwa “rahmat” dalam ayat tersebut ditafsirkan oleh sebagian sahabat dan tabi’in sebagai Nabi Muhammad SAW, merujuk pada penegasan Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 107:


Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya: 107).
Selain itu, Allah SWT secara tegas memerintahkan umat Islam untuk meneladani pribadi Rasulullah SAW dalam Surah Al-Ahzab ayat 21:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21).
Melalui momentum Tabligh Akbar di Majelis Taklim Nurul Iman ini, diharapkan para jemaah tidak hanya memperingati hari lahir Nabi secara seremonial semata, melainkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai luhur, kejujuran, kepedulian sosial, serta kasih sayang yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupan bermasyarakat di wilayah Cikarang Timur.
Abie FU


